SiaranNusantara – Sejarah kelam menyelimuti sepak bola Sumatera Selatan setelah klub raksasa Sriwijaya FC degradasi Liga 3 Nusantara. Kepastian turun kasta ini didapat usai Laskar Wong Kito dibantai rival sekotanya, Sumsel United, dengan skor telak 0-3 dalam laga Derby Sumsel pada pekan ke-21 Pegadaian Championship 2025/2026 yang berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, pada hari Sabtu malam, tanggal 28 Februari 2026. Hasil ini mengunci posisi Sriwijaya FC di dasar klasemen dan secara matematis tidak lagi mampu mengejar poin untuk bertahan di kasta kedua.
Pertandingan yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan justru berubah menjadi mimpi buruk sejak menit awal. Sriwijaya FC yang tampil penuh tekanan gagal meredam agresivitas Sumsel United yang tampil dominan sebagai tuan rumah. Pukulan telak ini menjadi titik nadir bagi klub yang pernah meraih gelar double winner di kancah tertinggi sepak bola Indonesia tersebut.
Kronologi Kekalahan di Derby Jakabaring
Dominasi Sumsel United sudah terlihat sejak peluit pertama dibunyikan. Laga baru berjalan empat menit, Octovianus Otto Kapisa langsung mengoyak jala gawang Sriwijaya FC melalui skema serangan cepat. Tertinggal satu gol membuat mental pemain Laskar Wong Kito goyah, yang kemudian dimanfaatkan Jacinto Junior Conceicao Cabral untuk menggandakan keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-21.
Memasuki babak kedua, Sriwijaya FC mencoba melakukan perubahan namun transisi permainan yang buruk membuat mereka kembali kebobolan. Pada menit ke-64, Muchlishin Aziz Hutagalung mempertegas kemenangan Sumsel United menjadi 3-0 melalui tandukan maut memanfaatkan umpan sepak pojok. Meski sempat mencetak gol keempat yang kemudian dianulir wasit karena offside, skor tiga gol tanpa balas tetap bertahan hingga laga usai.
Kejatuhan Sang Mantan Juara
Berdasarkan data klasemen Grup 1 Wilayah Barat, kondisi Sriwijaya FC sudah tidak terselamatkan. Tim kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini hanya mampu mengoleksi 2 poin dari 21 pertandingan yang telah dijalani. Dengan catatan 0 kemenangan, 2 seri, dan 19 kekalahan, selisih gol SFC berada di angka defisit -61 (14 memasukkan dan 75 kemasukan).
Secara matematis, dengan sisa enam laga, poin maksimal yang bisa diraih Sriwijaya FC hanyalah 20 poin. Angka tersebut tidak cukup untuk menggeser Persekat Tegal di posisi ke-9 yang saat ini sudah mengantongi 22 poin. Penurunan kasta ke Liga 3 Nusantara ini menjadi kali kedua bagi Sriwijaya FC setelah sebelumnya terdegradasi dari Liga 1 pada musim 2018 dan menghabiskan enam musim terakhir di Liga 2. Krisis finansial dan manajemen disinyalir menjadi faktor utama ketidakmampuan tim bersaing di musim ini.(put)
















