Sepak Bola Indonesia Berduka, Asisten Pelatih Arema FC Kuncoro Tutup Usia di Stadion Gajayana

SiaranNusantara — Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Indonesia. Kuncoro, asisten pelatih Arema FC, meninggal dunia saat mengikuti rangkaian kegiatan peringatan satu abad Stadion Gajayana, Kota Malang, pada hari Minggu, tanggal 18 Januari 2026.

Momen yang semestinya dipenuhi suka cita mendadak berubah menjadi duka mendalam. Kepergian Kuncoro tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga besar Arema FC, tetapi juga bagi Aremania dan insan sepak bola Tanah Air. Sosoknya dikenal sebagai pribadi yang tegas, humoris, serta memiliki jiwa kebersamaan yang kuat.

General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya sosok yang akrab disapa Cak Kun tersebut. Ia menyebut Stadion Gajayana sebagai saksi bisu perjalanan panjang Kuncoro di dunia sepak bola.

“Kami semua sangat terkejut dan terpukul. Cak Kun memulai karier profesionalnya di Stadion Gajayana, tempat ia merajut mimpi di masa muda. Dan hari ini, Allah memanggilnya pulang di stadion yang sama, tepat pada momen 100 tahun Stadion Gajayana.” ujar Yusrinal yang dilansir dari Ileague.com.

Ia menambahkan, Kuncoro berpulang dalam suasana bahagia, dikelilingi sahabat-sahabat lamanya di lapangan hijau yang sangat ia cintai.

Nama Kuncoro memang tak terpisahkan dari Arema FC. Ia pernah memperkuat klub kebanggaan Malang Raya itu pada periode 1991 hingga 1996. Sepanjang karier sebagai pemain, ia juga tercatat membela sejumlah klub besar seperti Mitra Surabaya, Persija Jakarta, Gelora Putra Delta, PSM Makassar, Persik Kediri, hingga PSIR Rembang.

Prestasi mentereng pun menghiasi perjalanan kariernya. Kuncoro turut merasakan gelar juara Galatama XII musim 1992/1993 bersama Arema, Liga Indonesia 1999/2000 bersama PSM Makassar, serta Liga Indonesia 2003 bersama Persik Kediri.

Dikenal sebagai pemain serba bisa, Kuncoro mampu bermain di berbagai posisi, mulai dari bek kanan, stoper, hingga gelandang. Karakternya yang disiplin, tangguh, dan tanpa kompromi membuatnya disegani lawan maupun rekan setim.

Tak hanya di level klub, Kuncoro juga sempat memperkuat Tim Nasional Indonesia. Ia membela Merah Putih di ajang Piala Kemerdekaan 1994 dan Piala Tiger 1998.

Setelah gantung sepatu, Kuncoro kembali ke Arema FC sebagai asisten pelatih. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia dipercaya memegang peran sebagai caretaker tim. Dedikasi dan loyalitasnya terhadap Arema FC menjadi warisan berharga yang akan terus dikenang.

Kepergian Kuncoro meninggalkan duka mendalam, namun juga kenangan indah tentang pengabdian, loyalitas, dan cinta sejati terhadap sepak bola Indonesia.(put)

iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *