Siarannusantara— Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, terus meningkat di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang per Minggu (3/10), kasus ISPA kini mencapai 608 kasus per hari. Angka tersebut meningkat sekitar 23 kasus setiap harinya.
“Untuk kasus ISPA saat ini mencapai 608 kasus per hari. Setiap hari mengalami peningkatan sekitar 23 kasus,” kata Kepala Dinkes Kota Palembang Fenty Aprina kepada wartawan, Senin (5/10/2026).
Kecamatan Sukarami menjadi wilayah dengan kasus ISPA tertinggi. Di kawasan tersebut, tercatat sekitar 70 kasus ISPA setiap hari.
“Kasus paling banyak berada di Kecamatan Sukarami, sekitar 70 kasus per hari,” ujarnya.
Berdasarkan kelompok usia, terdapat satu kelompok yang menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan jumlah mencapai 265 kasus. Dinkes Palembang terus memantau perkembangan kasus, terutama di wilayah yang terdampak langsung kabut asap karhutla.
Sepanjang September 2026, kasus ISPA di Kota Palembang bahkan mencapai 17.434 kasus. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.
“Di bulan September ini kasus terbanyak ISPA sepanjang tahun 2026, ada 17.434 kasus,” ungkap Fenty.
Meningkatnya kasus ISPA membuat Dinkes Palembang mengambil langkah penanganan langsung di kawasan yang terdampak karhutla. Salah satunya dengan mendirikan posko kesehatan di kawasan Talang Jambi.
“Untuk penanganan dampak karhutla, kita memasang posko bencana karhutla di Talang Jambi. Ini untuk jemput bola dalam menangani masyarakat yang terdampak,” jelasnya.
Talang Jambi dipilih karena merupakan salah satu kawasan dengan permukiman penduduk yang cukup padat sekaligus menjadi wilayah yang banyak terjadi karhutla.
“Wilayah tersebut merupakan kawasan penduduk yang cukup banyak dan juga banyak terjadi karhutla. Jadi kita hadir langsung untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Di tengah kondisi udara yang memburuk, Dinkes Palembang mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak asap, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.
Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker. Warga juga diimbau segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami batuk, pilek, sesak napas, atau keluhan gangguan pernapasan lainnya.
Kabut asap karhutla kini bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Bagi ribuan warga Palembang, asap telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan. (der)











