Siarannusantara— Pengelolaan lahan gambut berbasis riset dinilai menjadi langkah strategis dalam menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menggandeng Universitas Sriwijaya (Unsri) guna memperkuat pendekatan ilmiah dalam penanganan masalah tersebut.
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati OKI, Rabu (22 April 2026). Kesepakatan ini menjadi landasan kerja sama jangka panjang, khususnya dalam pengelolaan gambut berkelanjutan dan pengendalian karhutla.
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, menegaskan bahwa kerja sama dengan kalangan akademisi merupakan kebutuhan mendesak, mengingat luasnya wilayah gambut di daerah tersebut. Ia menyebutkan, sekitar 70 persen wilayah OKI merupakan lahan gambut yang memiliki risiko tinggi terhadap kebakaran.
“Setiap tahun OKI menjadi sorotan karhutla. Namun pada 2025, jumlah titik api tercatat paling sedikit. Ini harus kita jaga dan tingkatkan dengan pendekatan yang lebih ilmiah,” ujarnya.
Menurut Muchendi, penanganan karhutla tidak lagi cukup mengandalkan cara konvensional. Kebijakan ke depan harus didukung oleh riset dan data lapangan agar lebih tepat sasaran.
Ia berharap kolaborasi ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain melibatkan perguruan tinggi, Pemkab OKI juga membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta sebagai bagian dari upaya bersama.
Sementara itu, Rektor Unsri, Taufiq Marwa, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa riset harus mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.
“Perguruan tinggi tidak boleh berada di menara gading. Riset harus turun langsung dan menjawab persoalan masyarakat, termasuk karhutla dan pengelolaan gambut di OKI,” katanya.
Taufiq menyatakan Unsri siap mengerahkan sumber daya akademik untuk mendukung riset terapan, termasuk pendampingan masyarakat dan penguatan kapasitas daerah.
Menurutnya, hasil penelitian harus memberikan dampak konkret, terutama dalam pengendalian karhutla dan pengelolaan gambut yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kualitas pengelolaan lingkungan di OKI. Sinergi antara pemerintah daerah dan akademisi dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus menekan risiko kebakaran di masa mendatang.
(der)










