Hari Kebangkitan Nasional 2026: HMI Badko Sumbagsel Sebut Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

SiaranNusantara – Momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang jatuh pada Rabu (20/05/2026) hari ini tidak boleh sekadar menjadi seremoni tahunan yang hampa makna. Di tengah riuhnya upacara formal, suara kritis dan refleksi mendalam justru datang dari para aktivis mahasiswa di daerah yang melihat kondisi riil masyarakat sedang berjuang keras bertahan hidup.

Ketua HMI BADKO Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), M. Ikhsan Rivaldi, dengan lantang menyampaikan bahwa bangsa ini sedang berada dalam fase yang penuh dengan tantangan berat. Melalui analisis tajamnya, ia mengingatkan semua pihak agar tidak terlena oleh angka-angka statistik di atas kertas yang sering kali mengabaikan kenyataan pahit di lapangan.

Menurutnya, kesadaran kolektif untuk bangkit harus dimulai dari keberanian mengakui bahwa kondisi Indonesia hari ini sedang dalam keadaan yang tidak ideal. Keresahan ini bukan tanpa alasan, mengingat berbagai indikator ekonomi dan sosial justru memperlihatkan jurang ketimpangan yang semakin menganga lebar bagi rakyat kecil.

Ironi Angka Pertumbuhan di Tengah Jeritan Ekonomi Rakyat

Meskipun data makro menunjukkan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2025 berada di angka 5,11 persen, pencapaian tersebut dinilai belum menjawab persoalan mendasar di dapur masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia masih berada di angka yang sangat memprihatinkan, yakni mencapai 23,36 juta jiwa.

“Pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan itu nyatanya belum sepenuhnya menciptakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi generasi muda di daerah,” ujar M. Ikhsan Rivaldi saat memaparkan refleksinya. Keterbatasan kesempatan kerja ini membuat jutaan lulusan baru terancam terjebak dalam ketidakpastian masa depan.

Kondisi tersebut diperparah dengan jumlah pengangguran terbuka yang masih bertengger di angka 7,46 juta orang. Bagi para pemuda dan mahasiswa di Sumatera Selatan serta wilayah Sumbagsel lainnya, tingginya persaingan kerja tanpa adanya proteksi ruang demokrasi yang sehat kini menjadi beban psikologis tersendiri.

Rekor Terlemah Rupiah Jadi Pukulan Telak Daya Beli Warga

Persoalan yang paling memukul kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang kian mengkhawatirkan. Pada Mei 2026, posisi mata uang garuda sempat tersungkur hingga menyentuh kisaran Rp17.670 hingga Rp17.720 per dolar Amerika Serikat, mencatatkan salah satu titik terendah dalam sejarah keuangan Indonesia.

“Bagi emak-emak dan warga di pasar tradisional, pelemahan rupiah itu bukan sekadar angka ekonomi di televisi. Dampaknya langsung menjalar ke harga barang pokok yang melonjak, biaya produksi naik, dan daya beli kita yang hancur lebur,” tegas M. Ikhsan Rivaldi.

Melalui tema peringatan tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” HMI BADKO Sumbagsel mendesak pemerintah agar pembangunan benar-benar diarahkan untuk memperkuat ekonomi rakyat bawah. Kebangkitan nasional sejati tidak akan pernah lahir dari kenyamanan elite penguasa, melainkan dari keberanian bersama untuk memperbaiki ketimpangan yang ada di daerah.(put)

iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *