Jangan Pukul Rata! Tokoh Muda NU Sumsel Ilham Akbar: Pesantren Adalah Benteng Akhlak, Masyarakat Harus Jeli Lihat Rekam Jejak Pengasuh

SiaranNusantara – Pendidikan pesantren kini sedang diuji oleh sentimen negatif akibat ulah segelintir oknum. Menanggapi hal ini, Tokoh Muda NU Sumsel, Kgs. M. Ilham Akbar, menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh menutup mata terhadap besarnya jasa pesantren hanya karena kesalahan satu-dua orang pengajar.
​Bagi Ilham, pesantren tetaplah model pendidikan paling mengakar di Indonesia yang sudah terbukti mencetak banyak tokoh besar bangsa. Generalisasi negatif dianggap sebagai langkah yang keliru karena faktanya, ribuan pesantren lain masih berjalan di atas koridor adab yang sangat ketat.
​“Jangan karena ulah beberapa oknum yang melanggar aturan, lalu ribuan pesantren lainnya dipukul rata mendapatkan stigma buruk,” ujar Ilham dengan nada tegas.

Waspadai Pengkultusan Berlebihan pada Sosok Guru

Salah satu poin penting yang disoroti Ilham adalah pola hubungan antara murid dan guru di lingkungan pesantren. Ia mengingatkan para wali santri agar tidak terjebak dalam pengkultusan berlebihan terhadap pengasuh atau pengajar mana pun.
​Menurutnya, rasa hormat kepada kiai atau guru harus tetap berada dalam batas nilai-nilai keulamaan yang benar. Dalam beberapa kasus penyimpangan, oknum justru memanfaatkan kepatuhan mutlak murid untuk melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab.
​“Masyarakat harus lebih cermat melihat latar belakang pengajar. Mulai dari riwayat pendidikannya di mana hingga bagaimana rekam jejaknya di tengah masyarakat,” tambahnya sebagai pengingat bagi para orang tua.

Pesantren Berkualitas Tetap Jadi Pilihan Utama

Meski pengawasan harus diperketat, Ilham mengimbau para orang tua di Sumatera Selatan agar tidak takut menyekolahkan anak ke pesantren. Ia menyebutkan institusi seperti Tebuireng, Gontor, hingga Lirboyo sebagai bukti nyata reputasi pesantren yang tak tergoyahkan.
​Alumni-alumni besar seperti Gus Dur hingga KH Ma’ruf Amin adalah bukti otentik bahwa pesantren adalah kawah candradimuka bagi pemimpin bangsa. Dengan ketelitian dalam memilih, pesantren tetap menjadi tempat terbaik untuk membentuk karakter dan akhlak generasi muda di era sekarang.
​Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tapi juga rumah bagi nilai-nilai kemanusiaan. “Jangan biarkan ulah segelintir oknum menghancurkan masa depan pendidikan anak-anak kita dalam memahami agama secara benar,” pungkasnya.(put)

iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *